Tempe, Memang Enak dan Perlu

Makanan yang sangat Endonesia sekali, bahkan bisa dikatakan bahwa tempe adalah ciri khas makanan/masakan dari Indonesia. Dengan harga yang sangat terjangkau bagi semua lapisan masyarakat sehingga dapat menikmatinya dengan bahagia. Sangat mustahil bagi masyarakat Indonesia yang tidak ada atau belum pernah makan tempe, terlepas dari rasa suka atau tidak suka setidak-tidaknya pernah mencoba makanan tersebut.

Berbahan baku kedelai dengan kandungan gizi yang baik untuk mencukupi kebutuhan nutrisi sehari-hari. Beraneka resep masakan yang melibatkan tempe dapat menggambarkan bahwa tempe adalah makanan sejuta umat (bahkan lebih) dan tidak kalah gengsi dengan makanan cepat saji.

Coba diamati dengan cermat, makanan tempe sudah ada di restoran luar negeri dan menjadi salah satu makanan yang digemari. Tempe dapat menggantikan posisi daging, oleh karena itu sangat disukai oleh kaum vegetarian. Kandungan yang ada di tempe sangat banyak. Menurut data dari media online yang saya baca, setiap 50 gram tempe setara dengan 200 gram nasi. Kebutuhan mineral yang ada di dalam tubuh dapat dipenuhi oleh tempe, seperti zat besi dan asam lemak tak jenuh serta anti oksidan untuk tubuh. Vitamin yang terdapat di dalam tempe juga tidak kalah banyak. Vitamin A, D, E, K, B1, B2, B6 dan B12. Tidak terbantahkan betapa bergunanya tempe bagi kesehatan.

Sementara dibelahan bumi lain, ada beberapa orang yang berkeinginan kuat mempelajari seluk beluk tempe sampai cara produksinya. Untuk mempelajari cara mengolah tempe dengan baik dan benar, masyarakat luar ada yang belajar langsung datang ke pulau Jawa (Indonesia). Hal ini dilakukan agar didapat hasil yang memuaskan saat nanti ilmu tersebut dibawa ke luar negeri. Dan dimaksimalkan agar tidak ada perbedaan tempe yang dihasilkan di Indonesia dengan tempe yang diolah di luar negeri. Tapi maaf saya pribadi belum bisa merasakan tempe yang ada di luar negeri, karena saya belum pernah ke luar negeri.

Sepotong tempe yang dijual di pasar modern atau tradisional melibatkan banyak orang. Mulai dari petani yang menanam kedelai, buruh tani yang membantu petani untuk memanen kedelai, sampai kedelai tersebut diolah menjadi tempe.

Melalui perjalanan panjang, sepanjang sejarah perkembangan tempe di Indonesia, tempe melewati beberapa proses sebelum dikemas dan berada di meja penjual para pedagang tempe. Para penjual tempe memiliki usia yang sangat beragam, dari usia pelajar sampai usia 90 tahun. Dari salah satu media online yang saya baca ada yang menjalani profesi sebagai pedagang tempe sampai puluhan tahun lamanya.

Perjuangan para pedagang tempe penuh suka dan duka. Ada yang menempuh jarak yang jauh dengan cara berjalan kaki untuk menuju ke pasar, ada yang sebelumnya bangun dinihari, disaat semua orang tertidur lelap para pedagang tersebut bersiap-siap dengan dagangan tempenya.

Kerja keras untuk bertahan hidup harus diiringi dengan mental yang kuat seperti yang dilakukan oleh para pedagang tempe. Lantas mengapa muncul istilah “mental tempe?”. Sebuah kata yang memiliki sitgma negatif yang menggambarkan mental yang rapuh, lembek, gampang hancur, tidak tahan banting dan bernyali kecil. Mengapa harus dipilih kata tempe dan digabungkan dengan kata mental untuk mendapatkan kosa kata mental tempe? masih ada kata yang lain, misalkan mental telur busuk, mental nanas busuk dan mental busuk-busuk yang lainnya.

Pengertian kata tersebut sangat berbanding terbalik dengan keberadaan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalam tempe. Bagaimana mungkin dan tidak akan pernah bisa tempe diolah oleh orang-orang yang memiliki “mental tempe” seperti yang digambarkan oleh dua kata tersebut. Sungguh ironis.

Tempe hanya dapat ditangani oleh orang yang bermental baja, baja tahan karat meskipun hasil olahan diperoleh ciri fisik tempe yang lembek, rapuh dan mungkin memiliki ketebalan setipis ATM (Menurut salah satu tokoh saat Pilpres kemaren).

Ada banyak pedagang tempe tersebar di Nusantara tercinta ini. Menghidupi keluarga dengan cara menjual tempe. Pengalaman dan dedikasi yang sudah dijalani selama bertahun-tahun tetap memperlihatkan betapa ada semangat yang menyala-nyala.

Disaat memakan tempe, sediakan waktu untuk mengingat berapa banyak orang-orang yang terlibat untuk menghasilkan tempe yang nikmat. Betapa besar jasa orang-orang tesebut dengan kerja keras dan semangat yang ada. Dan mereka tidaklah memiliki mental tempe.

Share Button
Tags: , , , ,
Previous Post

Kekuatan dan Keberadaan Pasar Tradisional

Next Post

Mulutmu Harimaumu, Sekilas Tentang Lirik Lagu “Lathi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + five =