Sapardi Djoko Damono, Selamat Jalan, Karyamu Abadi

Sapardi Djoko Damono, Selamat Jalan, Karyamu Abadi
Sumber Gambar Kompas.com

Minggu 19 Juli 2020, setelah menjelang siang, saya membuka medsos dan tidak sengaja membaca status media sosial “Selamat jalan Sapardi Djoko Damono”. Susunan kata tersebut sudah pasti digambarkan untuk orang yang tutup usia, sudah selesai hidupnya di dunia ini.

Saya cukup kaget, untuk memastikan bahwa bukan hoax dan menguji kebenaran berita tersebut, saya memasukan kata kunci Sapardi Djoko Damono (SDD) dan memang benar, dalam sekejap muncul berita sejenis yang menggambarkan bahwa Sapardi Djoko Damono telah wafat.

Lini masa, jagad media sosial dipenuhi ucapan bela sungkawa yang ditujukan kepada keluarga beliau. Usia lanjut membuat penurunan fungsi organ tubuh yang mengakibatkan beliau wafat, begitu yang saya baca di salah satu harian media online nasional.

Pertama kali saya mengenal nama Eyang Sapardi saat membaca cerpen di harian Kompas edisi Minggu, tetapi saya lupa apa judulnya. Dan setelah itu tidak lagi ingat akan nama itu. Kemudian muncul lagi nama Eyang Sapardi lewat obrolan dengan almarhum orang tua saya, ternyata almarhum orang tua saya sangat menyukai tulisan SDD yang dibaca hanya lewat koran, meskipun begitu belum ada satu bukupun karya SDD yang saya miliki. Keinginan untuk membeli salah satu buku karya SDD semakin kuat dengan adanya berita duka cita tersebut.

Puisi yang ditulis oleh SDD menurut saya gampang dimengerti, susunan kata-katanya mudah dinikmati sekalipun bagi orang yang bukan dari kalangan dunia sastra,bahasa, budaya seperti saya ini. Yang penting tidak buta huruf dan ada sedikit “rasa” di dada maka sudah dapat membaca dan menikmati tulisan SDD.

Salah satu puisi yang berkesan bagi saya adalah berjudul Aku Ingin, selengkapnya seperti berikut:

Aku Ingin

“Aku ingin mencintai dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Berulangkali saya membaca puisi tersebut, kata-kata yang ada sangat sederhana, dirangkai begitu indah dan menimbulkan makna, beribu makna, makna yang sangat luas tentang kehidupan, tentang rasa cinta dan pengorbanan. Bahkan menurut salah satu media online yang saya baca, puisi tersebut pernah ditulis pada undangan pernikahan, menurut saya hal tersebut adalah ide bagus karena selama ini selalu ada tulisan “Mohon doa dan restu” di setiap undangan pernikahan.

Sepenggal puisi diatas sudah cukup menggambarkan betapa besar rasa cinta itu. Semua orang juga pernah merasakan bagaimana cinta itu, tetapi untuk menuliskan puisi tentang cinta dengan kata-kata yang sederhana dan setara dengan puisi di atas tentulah sulit, meskipun orang tersebut berkali-kali dilanda jatuh cinta, apalagi jika saya sendiri yang menuliskan puisi tersebut.

Kepada Eyang Sapardi Djoko Damono, percayalah, banyak yang berduka atas kepergian Anda. Tidak ada hal yang sia-sia dari segala apa yang sudah Anda hasilkan. Puisi, cerpen dan novel semuanya Anda buat sebagai tanda hidup bagi generasi seterusnya. Kolaborasi Anda dengan rintik sedu, sebagai penulis muda, menunjukan kerendahan hati Anda. Karya Anda abadi, masih dapat dinikmati oleh siapapun dan sampai kapanpun.

Semuanya karya Anda terekam dengan baik lewat berbagai media yang ada, selama bumi masih berputar pada porosnya. Meskipun Anda sudah tiada, karya Anda masih dapat memberi ajaran tentang dunia sastra, sebagai daftar pustaka abadi bagi yang ingin mempelajari dan mendalaminya.

Menurut pendapat saya, bisa jadi yang tadinya kurang suka puisi, kurang suka menulis, setelah membaca karya Anda, termotivasi untuk menulis, ada keinginan untuk mempelajari dunia sastra, seperti yang saya alami sekarang. Meskipun saya bukan seniman tetapi saya sangat suka bidang seni, saya benar-benar menikmati tulisan puisi karya-karya Anda dan termotivasi untuk belajar menulis.

Belum satu puisi, novel, cerpen yang saya buat, dengan menulis artikel ini, seperti inilah cara sederhana saya menghormati karya Anda.

Share Button
Tags: , , , ,
Previous Post

5 Langkah Hidup Sehat, Supaya Tubuh Makin Kuat Lawan COVID-19

Next Post

Kekuatan dan Keberadaan Pasar Tradisional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + fourteen =