Menggambar, Melukis dan Menulis sebagai Perkembangan Peradaban

gambar purba tertua di gua sulawesi selatan
Sumber Gambar Google

Terlintas di benak saya, apa yang terjadi jika tidak ada jejak yang ditinggalkan oleh manusia purba berupa berbagai macam bentuk gambar, simbol, lambang yang dibuat di dinding atau langit-langit gua tempat mereka tinggal. Serta sama sekali tidak ada tulisan yang dibuat di atas batu, dedaunan ataupun kulit binatang pada masa kerajaan yang pernah ada di belahan bumi manapun.

Kesulitan pasti dialami oleh ahli sejarah dan arkeolog untuk menelusuri jejak masa lalu. Sulit memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kehidupan manusia purba ataupun kehidupan kerajaan, masyarakat terdahulu yang pernah mendiami seluruh pulau yang ada di nusantara.

Kemampuan manusia purba meninggalkan jejak dengan membuat gambar di dinding gua sangatlah luar biasa. Bentuk gambar yang dihasilkan sangat bagus. Lantas, Apakah gambar yang dibuat manusia purba tersebut termasuk lukisan?

Menggambar dan melukis memiliki definisi yang berbeda. Defenisi bebas dari menggambar adalah sebuah ungkapan bentuk dengan ataupun tanpa alat membuat goresan untuk menirukan sebuah objek yang dilihat ke bidang dua dimensi. Sedangkan melukis adalah sebuah ungkapan bentuk yang dituangkan ke dalam bidang dua atau tiga dimensi dan menggunakan alat.

Selain penemuan gambar di dinding gua yang tidak kalah pentingnya adalah penemuan tulisan berupa prasasti yang ada di Indonesia. Dari prasasti tersebut dapat ditelusuri peradaban, sistem pemerintahan dan tata negara yang berlaku pada saat itu.

Urutan perkembangan peradaban manusia ditandai dari kemampuan menggambar dan kemudian disusul dengan kemampuan menulis. Hal tersebut diperkuat dengan data penemuan gambar tertua ada di daerah Sulawesi dengan usia lebih dari 44.000 tahun lamanya. Sedangkan saat prasasti ditemukan sudah merupakan tanda akhir dari zaman prasejarah.

Coba kita perhatikan, bayi yang baru lahir setelah beberapa bulan kemudian memiliki kemampuan untuk menggenggam sebuah benda, katakanlah pena, secara naluri dan insting, bayi tersebut akan membuat coretan dengan pena tersebut, bukan membentuk tulisan akan tetapi membentuk sebuah gambar yang tidak menentu dan biasanya kita sebut dengan gambar benang kusut. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan dasar yang dimiliki manusia adalah menggambar sebelum mengenal tulisan.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita melihat banyak yang mampu berbicara selama berjam-jam lamanya. Memaparkan segala sesuatu lewat lisan. Tetapi belum tentu yang dapat berbicara banyak bisa menulis dengan baik, mampu menuliskan gagasannya agar dapat dibaca orang banyak. Karena menulis sangatlah berbeda dengan berbicara. Seorang penulis harus mampu menyampaikan pesan, membuat orang mengerti tentang isi kandungan tulisan tersebut tanpa harus bertatap muka. Menulis bukanlah berdialog.

Peradaban berkembang karena tulisan, bukan karena omongan. Semakin sering suatu masyarakat mengungkapkan gagasannya secara tertulis, semakin tinggi juga tingkat peradaban masyarakat tersebut. Menulis jauh lebih terhormat daripada hanya omongan saja. Bisa saja omongan seseorang menjadi bahan sejarah tetapi hal itu akan musnah seiring perkembangan zaman. Yang tersisa adalah tulisan mereka sendiri yang menjadi bahan sejarah untuk ditelusuri. Bagaimana kita dapat menelusuri pemikiran para tokoh dan pejuang di negara ini jika mereka semua gagap menulis? Sekalipun seorang tokoh dunia jika tidak dapat menuangkan pemikiran dan gagasan lewat tulisan, tidak satu orang pun akan mengingat namanya.

Para tokoh pejuang pada saat kebebasannya terbelenggu justru dapat melahirkan karya-karya hebat yang mampu mengubah peradaban. Mereka berteriak merdeka dengan cara mereka sendiri. Tanpa harus memanggul senjata, menuangkan gagasan yang bisa mengusik kemapanan para penjajah pada waktu itu. Ternyata menulis juga memiliki resiko. Tulisan yang tidak sejalan dan menentang penguasa hukuman penjara menanti. Bahkan hukuman mati juga harus di hadapi.

Bermodalkan jiwa yang bebas, jiwa yang merdeka, para penulis merangkap pejuang tersebut leluasa menulis apa saja karena jiwanya tidak terbelenggu dan dibarengi dengan hati dan pikiran yang tidak terikat apapun. Jika saat menulis bergerak dari lubuk hati yang dalam maka hasilnya juga akan mampu membekas di hati para pembacanya.

Penulis  sejati tidak tergantung dengan  komputer canggih, tempat yang nyaman. Bukan juga suasana yang tentram, langit yang dipenuhi bintang-bintang. Mereka bagaikan bunga yang mekar menyebar harum meskipun berada di tempat yang terpencil. Dan tidak juga mencari popularitas.

Antara menggambar dan menulis terdapat hubungan yang terkait dalam masalah perkembangan peradaban manusia. Apakah diperlukan bakat untuk dapat menguasai dua bidang tersebut? Manusia purba dan masyarakat prasejarah telah membuktikan kalu bakat bukanlah sesuatu hal yang penting. Mereka secara naluri ingin menyampaikan pesan kepada kehidupan selanjutnya bahwa mereka pernah ada.

Silahkan mulai berkarya, jangan sampai manusia purba lebih cerdas dari kita.

Share Button
Tags: , , , ,
Previous Post

Daging Rendang Bukanlah Lengkuas

Next Post

Didi Kempot dan Bude Sumiyati, Duet Maut Masalah Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × five =