Fenomena Kecepatan Cahaya di Kehidupan Sehari-hari

kecepatan cahaya
Sumber Gambar Google

Saat pertama kali mempelajari fisika, saya takjub oleh kecepatan cahaya. Bagaimana tidak, cahaya dapat melesat dengan jarak yang sangat jauh dan dalam waktu yang sangat singkat. Dalam satu detik cahaya mampu menempuh jarak sejauh 300 Km. Jika diubah ke dalam bahasa matematika, kecepatan cahaya adalah 300 Km/detik.

,p>Jika jarak antara Kota Medan dan Kota Sibolga  sebesar 341 Km, dengan memilih jalan darat akan memakan waktu sekitar 7 Jam. Bayangkan jika mobil tersebut memiliki kecepatan cahaya, maka waktu yang cukup banyak bisa dipersingkat. Dalam tempo satu detik mobil tersebut sudah sampai ke Kota Sibolga. Mudah-mudahan yang membaca tulisan ini ikut takjub.

Dari berbagai sumber ilmu pengetahuan yang saya baca, ada istilah  “Tahun Cahaya”. Istilah tersebut sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan satuan waktu, melainkan merupakan satuan jarak. Satuan jarak? Ya benar, Anda tidak salah baca. Karena jarak objek luar angkasa sangatlah jauh antar satu dengan yang lainnya dan tidak mungkin dituliskan ke dalam satuan jarak yang biasa dipergunakan masyarakat.

Ambil satu contoh, menurut penelitian, jarak matahari ke bintang terdekat adalah 40.000.000.000.000 atau 40 trilyun kilometer. Sangat banyak angka nol yang harus ditulis dan tentu akan menyulitkan pembaca. Untuk hal tersebut digunakan satuan jarak tahun cahaya. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya selama satu tahun  di dalam ruang hampa sebesar: 300.000 km/detik x 60 detik/menit x 60 menit/jam x 24 jam/hari x 365,25 hari/tahun = 9.467.280.000.000 km = (9,46 x 1012) km. Hanya dengan kecepatan cahaya jarak yang begitu jauh dapat ditempuh. Silahkan untuk takjub lagi.

Nah sekarang ijinkan saya melamun, betapa indahnya hidup ini jika kemampuan membaca buku saya secepat kecepatan cahaya dengan pemahaman yang tinggi. Tidak perlu repot-repot mengikuti ataupun tertarik dengan pelatihan membaca kilat yang iklannya sering muncul di akun medsos saya. Semua buku terbaca habis tanpa sisa, sekalipun tetap ada di rak buku dan selalu terlihat, tidak akan menjadi persoalan. Lain halnya jika terlihat di rak buku dan banyak buku yang belum selesai dibaca, seperti ada perasaan bersalah.

Saya terlihat pintar, bijaksana dan berwibawa. Memiliki wawasan yang luas, tempat orang bertanya meminta pendapat, nasihat dan solusi atas masalah mereka semua. Semua orang segan, menyapa saya dengan penuh hormat diiringi senyum terbaik mereka.

Terkait dengan kecepatan cahaya, ada hal lain yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, yaitu penyebaran berita hoax. Saat menerima berita yang belum tentu benar, berita itu sangat cepat menyebar seperti kenderaan yang melaju kencang dan tiba-tiba remnya rusak. Menabrak segala sesuatu yang menghalanginya dan meninggalkan kerusakan yang parah.

Bagi yang menerima berita tersebut, seolah ingin menjadi yang pertama kali menyebarkan ke segala penjuru grup medsos yang dimilikinya dan merasa sangat berjasa, ikut menyelamatkan NKRI, ikut menjaga populasi manusia Indonesia jika hal itu dilakukan. Mulut diam tetapi jari jemari secara sigap menekan tombol “send” atau pun forward untuk menerukan berita itu.

Untuk melakukan serangan kepada orang lain, membuat hoax dan menyebarkan sangatlah efektif. Sangat mudah menarik perhatian orang banyak. Hal ini juga didukung oleh sangat besarnya rasa ingin tahu masyarakat terhadap sesuatu hal yang bahkan bukan menjadi wllayahnya. Secara tidak sadar ikut masuk ke ranah pribadi orang lain dan menjadikan konsumsi publik.

Tidak terbiasa menilai, memilih dan memilah saat menerima kabar jadi akselerasi percepatan penyebaran berita itu. Bahkan berita yang sudah lama bisa kembali mencuat ke permukaan. Ada banyak korban yang berjatuhan akibat berita tersebut. Hanya kita sendiri yang mampu meredam berita hoax meskipun disebarkan dengan kecepatan cahaya sekalipun. Jika sudah yakin kadar suatu berita tersebut adalah hoax, cukuplah berhenti di diri kita sendiri.

Jika diteliti lebih dalam, berita dengan kadar kebenarannya diragukan, sumber yang tidak jelas, jika disebarkan, bukankah itu termasuk fitnah? Hoax adalah fitnah kekinian. Lebih kejam dari pembunuhan. Sejak dalam pikiran, jika ada keinginan untuk menyebarkan berita tersebut, pikirkan berkali-kali, karena akan banyak melibatkan perasaan orang lain yang terkait dengan isi berita tersebut.

Masih banyak hal yang bermanfaat dan bermakna untuk dibagikan ke orang lain.

Share Button
Tags: , , , ,
Previous Post

Dengarkan Sampai Selesai, Begitu Seharusnya

Next Post

Mengawali Hari dengan Cerita Subuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × four =