Didi Kempot dan Bude Sumiyati, Duet Maut Masalah Hati

Siapa yang tidak kenal dengan dua nama di atas?

Meskipun bukan pahlawan nasional, ilmuwan bahkan penerima hadiah nobel, kehadiran mereka memberi arti yang dalam di mata hati penggemarnya. Nama mereka diterima masyarakat luas tanpa syarat, tanpa agunan dan ada warna tersendiri dikehidupan banyak orang.

Bude Sumiyati, seorang wanita dengan tampilan unik dan nyentrik. Sangat mudah dikenali ditengah keramaian. Rambut pendek sebahu berwarna merah dan tattoo di kedua lengan merupakan ciri khas Bude di setiap penampilannya sehari-hari.

bude sumiyati
Sumber Gambar Google

Lantas apa yang menjadikan Bude Sumiyati menjadi pembicaraan netizen ? Ternyata status di Instagram beliau yang sangat kocak dan lucu. Hampir kesemuanya tentang patah hati. Dikemas dengan kata-kata mudah dicerna dan saya yakin, membuat pembaca tersenyum-senyum. Ditambah dengan foto-foto Bude yang santai seolah  tanpa beban hidup berat. Kata-kata Bude yang sangat terkenal adalah “ Pernah patah hati tapi tetap bidadari”.

Bagaimana dengan Didi Kempot? Siapakah dia?

Beliau seorang pengamen jalanan. Diawali mengamen dari Jogjakarta sampai Jakarta pada tahun 1980-an. Nama belakang Kempot adalah akronim dari kelompok penyanyi trotoar. Sepengetahuan saya, hampir seluruh lagu dibawakan dalam bahasa Jawa dengan iringan musik yang disebut dengan campur sari.

didi kempot
Sumber Gambar Google

Campur sari di tangan seorang Didi Kempot menjadi sangat istimewa. Meskipun lirik lagu dalam Bahasa Jawa, saat konser dihadiri dari berbagai kalangan masyarakat termasuk beragam suku. Semua mampu berjoget tanpa ada status sosial yang di bawa.

Antara Didi Kempot dan Bude Sumiyati memilki kesamaan untuk masalah hati. Keduanya membahas hati yang terluka karena cinta, cinta yang bertepuk sebelah tangan, bagaikan punduk merindukan bulan dan segala hal yang berkaitan dengan patah hati. Jatuh cinta itu luar biasa, patah hati? Entah lah…..!

Semua orang memiliki hak untuk jatuh cinta. Urusan hati beserta turunannya sudah ada dan seumuran dengan peradaban manusia itu sendiri. Jatuh cinta bukan hanya milik usia muda, manula bahkan anak usia sekolah SD sudah bisa merasakan jatuh cinta dan jika mereka berpacaran, tanpa malu-malu saling  memanggil dengan sebutan ayah dan bunda, bisa jadi orang tua mereka sendiri tidak semesra seperti apa yang mereka lakukan.

Apakah jatuh cinta harus satu paket dengan patah hati?

Seumpama semua manusia ingin masuk surga, akan tetapi jika disuruh masuk duluan pasti enggan. Sama artinya menyuruh orang tersebut untuk mati. Bukankah harus mati dahulu agar bisa masuk surga? terlepas dari bagaimana polah tingkah manusia tersebut selama hidup di dunia, semua manusia merasa berhak untuk masuk surga.

Begitu halnya dengan urusan cinta. Sewajarnya semua orang ingin jatuh cinta, ingin merasakan dan mendapatkan cinta sejatinya. Sambil berharap perjalanan jalinan cinta itu mulus meskipun kadang diembel-embeli dengan status tidak direstui orang tua, LDR ato backstreet. Segalanya diperjuangkan untuk cinta sejatinya. Akan tetapi banyak yang tidak terima jika ditengah perjalanan cinta itu kandas atau bahkan bertepuk sebelah tangan, terjadilah apa yang disebut dengan patah hati. Hancur berkeping-keping, musnah harapan. Berani berhutang ya harus berani melunasi, berani gesek kartu kredit ya harus berani bayar. Berani jatuh cinta ya harus berani patah hati.

Sampai pada titik ini, timbul emosi dan amarah untuk melampiaskan rasa kecewa. Dendam, menangis karena mengenang masa-masa bersama pasangan yang tidak akan terulang lagi. Merasa terbuang, tidak berguna menghantui diri sendiri. Hal tragis untuk mengatasi rasa kecewa yang mendalam dan putus asa bisa saja melakukan bunuh diri (Entah apa yang merasuki dirimu..?)

Ditangan Lord Didi-The Father Of Brokenheart-begitulah para fans Didi Kempot menyebutnya dan Bude Sumiyati, urusan patah hati bisa disederhanakan, tidak ribet. Tidak perlu menggunakan ramuan khusus. Bude Sumiyati menempatkan patah hati di tempat yang layak. Meskipun seorang wanita, Bude tidak mewajibkan menangis untuk menghadapi patah hati. Hadapi dengan tulus, ikhlas bahkan dengan rangkaian kata-kata yang mengundang senyum para follower Instagram beliau.

Sedangkan Didi Kempot, untuk urusan patah hati, secara tersirat, memperbolehkan menangis meskipun seorang pria. Kata siapa pria tidak boleh menangis? Lewat lagu racikan Didi Kempot, menangis bukanlah hal yang tabu. Menangislah sepuas hati agar lega, ekspresikan rasa sedih itu dengan air mata, tidak ada yang melarang hal itu. Pria tidak boleh menangis hanyalah mitos. Kehadiran Didi Kempot merubah hal itu.

Siapakah yang ingin ditemani bidadari saat patah hati sambil mendengarkan lagu campur sari?

Share Button
Tags: , , , ,
Previous Post

Menggambar, Melukis dan Menulis sebagai Perkembangan Peradaban

Next Post

Haruskah Dia Datang untuk Kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − 7 =