Dengarkan Sampai Selesai, Begitu Seharusnya

dialog
Sumber Gambar Pixabay

Sopan santun, etika dan tatakrama itu akan dibawa sampai akhir hayat. Semua hal tersebut adalah pelajaran yang penting dan dikenalkan oleh kedua orang tua kita saat masih kecil. Manusia tidak dapat hidup sendiri. Interaksi sosial adalah sebuah pilihan yang harus terjadi. Berdialog, berbicara, bertukar pikiran dengan yang lain merupakan ciri utama manusia.

Penilaian orang lain terhadap sikap kita, tingkah laku dan tindak tanduk biasanya akan di bawa kemanapun dan sampai kapanpun. Hal tersebut akan kuat tertanam di benak manusia. Tentulah tidak ada satu orangpun didunia fana ini ingin dinilai jelek oleh siapapun, tidak rela hal itu terjadi. Sangat penting menjaga sikap saat berdialog.

Menempatkan diri, membaca situasi dan melihat status sosial lawan bicara adalah hal mutlak yang harus diperhatikan. Bahasa tubuh kita sendiri saat melakukan dialog mengambil peranan penting selama komunikasi dua arah berlangsung. Hindari bahasa tubuh yang dapat menyebabkan persepsi kurang baik terhadap lawan bicara.

Betapa sering ditengah-tengah dialog terjadi perdebatan sengit, menimbulkan bibit permusuhan yang sewaktu-waktu dapat meledak. Semua hanya permasalahan kecil. Ketidakmampuan untuk menjadi pendengar yang baik, merasa lebih mengerti terhadap isi pembicaraan dan secara tidak sadar memotong atau menyela pembicaran lawan bicara, hanya untuk menunjukkan bahwa dia lah yang paling mengerti akan suatu topic. Hal tersebut kadang bisa berakibat fatal.

Jika dilihat pada forum diskusi ilmiah terdapat moderator yang mengendalikan jalannya acara. Tugas moderator mengawal suasana diskusi agar berjalan lancar. Apabila terjadi perdebatan sengit antara peserta diskusi moderator mengambil alih dan mendinginkan suasana tersebut. Kendali penuh ada di tangan moderator dan menentukan giliran siapa yang berhak bicara dan yang lain mendengarkan.

Seperti yang saya ketahui dan lihat sendiri, di dalam adat istiadat suku Melayu, untuk melakukan lamaran biasanya dilakukan dialog. Dialog dua arah tersebut disebut dengan berbalas pantun. Biasanya pihak mempelai pria datang ke tempat mempelai wanita dan mengutarakan niat kedatangan tersebut lewat pantun.

Penyampaian pantun dipandu oleh moderator yang bersifat netral. Bukan mewakili salah satu pihak kedua mempelai. Moderator akan membuka pembicaraan dengan maksud menanyakan perihal kedatangan mempelai pria. Pihak mempelai pria, lewat juru bicara yang sudah ditunjuk, menyampaikan niat tersebut yang didengar oleh seluruh hadirin. Saya beri contoh salah satu kutipan pantun yang digunakan untuk mengutarakan niat lamaran mempelai pria, dikutip dari judul buku Dan Perang Pun Usai, Dunia Pustaka Jaya, 1979, halaman 103 karya Ismail Marahimin.

… anak kami sudah besar, ibarat burung sudah mulai mencoba-coba terbang sendiri, kalau Engku Haji berkenan biarlah dia sering-sering datang ke mari untuk membetul-beulkan tangga yang rusak, untuk membawakan basahan ke tepian….

Setelah selesai, moderator mempersilahkan pihak mempelai wanita, lewat juru bicaranya untuk menjawab pantun mempelai pria tersebut. Terkadang saat berdialog lewat pantun, selalu diiringi tawa canda para undangan yang hadir, karena tidak jarang pantun yang disampaikan diiringi lelucon dan gurauan nakal dalam kerangka pernikahan (untuk hal lelucon nakal seputar pernikahan tidak perlu saya jelaskan) dan tentunya hal tersebut menambah akrab kedua belah pihak. Saling bergantian mendengarkan dan berbicara.

Saya pribadi sangat suka dengan teknik penyampaian kata-kata (pantun) di atas. Dapat dilihat cara bertutur dan menyampaikan pesan secara sederhana. Sebagai seorang pria yang sudah lama tinggal di pulau Sumatera, sama sekali tidak bisa dan tidak mampu untuk membuat pantun barang sebait pun. Apalagi dengan kualitas seperti pantun di atas.

Agar dialog, komunikasi berjalan dengan baik, apakah peran moderator selalu diperlukan dalam kehidupan sehari-hari? Misalkan saat berada di pasar tradisional dan hendak membeli barang, sudah pasti ada dialog tawar menawar antara pedagang dan pembeli untuk menemukan kesepakatan harga, dan sebelum kesepakatan harga tercapai, pasti terjadi saling memotong pembicaraan. Tentulah terasa aneh jika secara khusus ada moderator ditengah-tengah pembicaraan tawar-menawar tesebut.

Dialog yang terjadi di warung kopi, warteg bahkan pos ronda tidak perlu menghadirkan moderator untuk menjamin kelancaran berkomunikasi. Hanya diperlukan pengertian agar dapat saling bergantian untuk berbicara dan mendengarkan. Ibarat kata pepatah, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, saling menghargai pendapat yang diutarakan dan dapat menggunakan pilihan kata-kata yang baik untuk menyampaikan sanggahan sebagai tanda tidak setuju dengan pendapat yang diutarakan lawan bicara tersebut.

Jadilah moderator untuk diri sendiri saat berbicara dengan orang lain, dan saya yakin itu tidak sulit. Dengarkan dengan sepenuh hati, dengarkanlah hingga lawan bicara selesai menyampaikan pendapatnya, tidak perlu memotong pembicaraan meskipun tahu lebih banyak isi topik tersebut. Begitulah cara sederhana menghargai lawan bicara.

Sebagai penutup saya kutip perkataan Ulama Saudi Arabia, Asy-Syaikh Abdul Aziz As Salman,

“Termasuk adab jelek saat berbincang ialah kamu memutus ucapan temanmu dan mendahului dia untuk melengkapi yang dia mulai. Dalam rangka menampakkan padanya bahwa kamu lebih tahu tentang hal yang dibahas daripada dia”

Share Button
Tags: , , ,
Previous Post

Mulutmu Harimaumu, Sekilas Tentang Lirik Lagu “Lathi”

Next Post

Fenomena Kecepatan Cahaya di Kehidupan Sehari-hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − 3 =